Menginjak sembilan belas tahun aku hidup dan bertahan di bumi yang megah dan penuh kejutan ini. Pada awal sebuah perjalanan yang aku rasa itu adalah pendewasaan, aku mengalami banyak sakit dan perih di ulu hati, perasaan yang campur aduk, emosional yang sama sekali gak stabil, keterbatasan ruang untuk bercerita, bahkan aku hampir mengucilkan diriku sendiri dari sosial. Aku merasakan bagaimana lingkungan dari pertumbuhanku bekerja dengan sangat kejam. Aku selalu merasa semua bak drama dalam cerita televisi yang rancu itu. Sempat saat menginjakkan bumi di umur tujuh belas, aku merasa jauh dari keluarga. Aku terlalu berfoya dengan teman dan orang yang pernah aku beri cinta. Selanjutnya pada tahap
Catatan kehidupan yang ditulis asal-asalan. Hidup dan kehidupan cuma sekali. Tulisan adalah satu-satunya yang tetap tinggal ketika seseorang pergi.