Menginjak sembilan belas tahun aku hidup dan bertahan di bumi yang megah dan penuh kejutan ini. Pada awal sebuah perjalanan yang aku rasa itu adalah pendewasaan, aku mengalami banyak sakit dan perih di ulu hati, perasaan yang campur aduk, emosional yang sama sekali gak stabil, keterbatasan ruang untuk bercerita, bahkan aku hampir mengucilkan diriku sendiri dari sosial. Aku merasakan bagaimana lingkungan dari pertumbuhanku bekerja dengan sangat kejam. Aku selalu merasa semua bak drama dalam cerita televisi yang rancu itu.
Sempat saat menginjakkan bumi di umur tujuh belas, aku merasa jauh dari keluarga. Aku terlalu berfoya dengan teman dan orang yang pernah aku beri cinta. Selanjutnya pada tahap
kedua, aku merasa teman disekelilingku hanya butuh kebahagiaanku, aku kerap kali marah dengan diriku sendiri dan merutuki kehidupanku yang aku anggap tak beruntung ini karena berada dalam kubangan eksentrik. Aku terlalu memikirkan perasaan orang lain tanpa merasakan perasaanku sendiri, aku bahagia melihat orang bahagia tanpa melihat tatapan mataku sendiri di depan kaca. Setiap hari aku menyembunyikan pikiran liarku sebagaimana aku bisa hidup tanpa orang lain, padahal itu adalah sebuah ketidak mungkinan.Pada hari tepat dimana aku harus memulai menjadi diriku yang bukan aku, aku yakinkan pada diriku sendiri bahwa aku harus lebih kuat dari sebelumnya. Aku menatap kedepan dengan penuh harap, sedang yang ku tatap di depan sana begitu menyeramkan. Aku mulai bergumul dengan otakku dan perasaanku sendiri. Aku mulai berlomba dan taruhan, kali ini siapa yang akan menang?
Hari-hari berikutnya aku sudah mulai berdamai dengan diriku sendiri. Aku memberi tegas pada jiwa yang terkoyak lemah, "Kamu harus bahagia atas dirimu sendiri." Kali ini, aku merasa ketegasan ini benar-benar akan berpengaruh. Benar saja, di tahun ke sembilan belas hidup, aku merasa diriku sendiri menjadi orang yang akhirnya mencintai hidupnya. Entah sesulit dan semenyeramkan apapun, entah orang tahu atau tidak tentang kehidupan ini, bumi terus berputar dan Tuhan sudah menetapkan jalan setiap manusia-Nya.
Pada akhirnya, aku dan hidupku adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Entah seberapa lama tahun berganti dan dunia berubah, aku tetap aku, kamu tetap kamu, dan kita tetaplah kita, meskipun dengan pemikiran baru.
I like it.
BalasHapus