Langsung ke konten utama

Sempurna dan Porsinya


Ketika seseorang bertanya, arti sempurna dalam hidupmu sebenarnya apa? Berkali lipat aku bertahan dengan jawabanku bahwa porsi sempurna tentang kehidupan semua orang pasti ada takaran adil dan tidaknya. Emosi, haru, sengak, rindu, cinta, benci. Semua tentang langkah

dan kehidupan ada porsinya. Menginjak tahun ke sembilan belas aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menginjak dan merasakan udara dunia ini, semua tentang hidup menjadi pelajaran. Tentang orang yang datang lalu pergi, tentang perasaan yang terpendam beribu-ribu hari, tentang arti persahabatan dari awal hingga saat ini, tentang arti pergi dan kembali, tentang arti keluarga dan isinya, tentang arti rasa syukur mengenai dunia, tentang semuanya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata maupun suara. Apalagi, tentang diri sendiri yang keras kepala dan susah keluar dari zona nyaman.

    Di dunia yang luas dan penuh dengan karakter manusianya, kita dipaksa menjadi orang yang sempurna oleh lingkungan. Atas ketidak mungkinan menjadi sempurna inipun, kita di hadapkan oleh kaum-kaum penganut paham insecuritas atas dirinya sendiri. Tidak menampik kata munafik untuk diriku sendiri, aku beribu kali merasa kurang atas diriku. Entah atas kehidupan, atas tubuh yang jauh dari kata body goals, atas rupa yang pada kategori universal pembicaraan wanita aku merasa diriku sendiri tak cukup cantik dan merasa kurang ketika mentap pantulan diriku di kaca. Dalam umur belasan terakhir bahkan, seseorang akan dihadapkan pada perasaan untuk menjadikan lebih perasa soal perasaan atau bahkan menjadi yang persetan dengan kehidupannya. Tapi itu semua hanyalah tentang diri sendiri yang mengenal situasi dan bagaimana caranya berekspresi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla (Raisa Najma) Dalam sela pergantian malam dan fajar Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan Habis lembayung dari tubuhnya berpendar Terserap gairah lepas lemas perjamuan

Hal-hal tentang Bentala harus disudahi

Tepat pukul 19.40 malam, Nalani datang ke rumah. Dia telah menjejakkan kaki di teras rumahku tepat setelah Jingga, lelaki baik yang sempat Nalani kejar tanpa kenal putus asa dan sekarang telah jatuh pada pesona Nalani yang elok itu berpamitan pulang. Malam ini kami berdua memang memiliki rencana untuk saling cerita tentang kisah hidup yang bercorak abu dan hitam ini. "Waktu itu, aku kira Bentala beneran datang ke mimpiku, tapi ternyata aku aja yang kebanyakan mikirin dia," terangku tanpa basa basi ketika tubuhnya berhasil merebahkan diri di kasur. "Yang penting, kan, dia dateng." "Berhenti jadi penyemangatku buat dapetin Bentala, ya. Katamu, kan, ada beberapa hal yang gak bisa dipaksain. Mungkin dapetin Bentala itu salah satunya."