Tepat pukul 19.40 malam, Nalani datang ke rumah. Dia telah menjejakkan kaki di teras rumahku tepat setelah Jingga, lelaki baik yang sempat Nalani kejar tanpa kenal putus asa dan sekarang telah jatuh pada pesona Nalani yang elok itu berpamitan pulang. Malam ini kami berdua memang memiliki rencana untuk saling cerita tentang kisah hidup yang bercorak abu dan hitam ini.
"Waktu itu, aku kira Bentala beneran datang ke mimpiku, tapi ternyata aku aja yang kebanyakan mikirin dia," terangku tanpa basa basi ketika tubuhnya berhasil merebahkan diri di kasur.
"Yang penting, kan, dia dateng."
"Berhenti jadi penyemangatku buat dapetin Bentala, ya. Katamu, kan, ada beberapa hal yang gak bisa dipaksain. Mungkin dapetin Bentala itu salah satunya."
"Kamu, nyerah, Ran?"
"Bukan nyerah. Sadar diri."
"Hm, terus? Maharani tetap Maharani?"
"Ya? Maharani tetap aku, kan? Maharani tetap Maharani, cuma aja mungkin yang ditulisnya bukan soal Bentala lagi."
"Cerita tentang Bentala sudah usai, Ran?"
"Ya? Apa menurutmu usai sebelum dimulai itu termasuk telah usai, hm?"
"Kamu gitu aja nyerah, Ran."
"Kalau Jingga memang cuek, Ni. Bentala beda. Susah ditembusnya."
"Hatinya batu banget, ya, Ran?"
Komentar
Posting Komentar