Langsung ke konten utama

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla

(Raisa Najma)

Dalam sela pergantian malam dan fajar

Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan

Habis lembayung dari tubuhnya berpendar

Terserap gairah lepas lemas perjamuan


Tak selayak bagaskara yang setia pada nabastala

Kita hanyalah sepasang resah yang tak ingin pisah

Samar meredup gemerlap merah jambu pipiku

Sekejap telak ditepuk Tuan saat ranum cahaya kelabu


Kita terlalu membuncah, berapi-api

Mengamini hal yang tak abadi

Kita terlalu meluruh, bertaruh diri

Menghakimi segala yang pergi


----Singkat dari Saya----

Puisi ini ditulis hari Senin (5 Juni 2023) pukul 15.27 pas lagi kelas Dasar Filsafat. Puisi yang agaknya sedikit vulgar ini muncul tiba-tibas pas lagi ngescroll Instagram. Derita manusia yang sedang tidak mencintai siapa-siapa pada saat itu, menjadikan saya nulis puisi yang gak ada arahnya ini. Objek utama puisi diblur alias tidak ditujukan pada siapa-siapa. Puisi ini agaknya menceritakan tentang dua orang yang berpegang kuat dengan egonya masing-masing. Kata orang, bercinta dan saling mencintai adalah kegiatan yang membuat kita lupa diri. Ruang egois dan labirin emosi meluruh, menyisakan ruang-ruang gairah dengan rasa ingin terus memiliki yang begitu besar. Bukankah cinta memang seperti itu? Diturunkan dengan kebutaan yang mengakibatkan semua orang kehilangan akal dan berada dalam situasi chaos. Dikuras oleh cinta itu dan haus sebab cinta itu sendiri.

Layla adalah sebuah nama bermakna malam, cantik, tegas dan berambut hitam. Begitu pula penggambaran sosok perempuan dalam kata itu. Cantik dan gelap. Indah untuk menjadi judul sebuah puisi ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simfoni Efemeral Vol. 1

Simfoni Efemeral Empat Bagian Ketidakkekalan      Sekumpulan kupu-kupu dalam ruang renjanaku terhenyak. Mereka lantas berhamburan kesana kemari akibat kepalamu yang mendarat di pangkuanku. Aroma ocean breeze dari surai rambutmu tak kalah menyeruak indra penciumanku. Selanjutnya kau layangkan emosi romansa yang begitu membiusku. Kau berkata, "Telah termaktub sebuah cinta dariku untukmu saja. Pahamilah," sungguh tak cukupkah dengan itu kau begitu membuatku jatuh dalam cintamu?

Alih Wahana; Tutur Batin

Inspired by  Tutur Batin - Yura Yunita Hal-hal mengenai hilangmu dan kepergianmu. Di dalamnya kemudian terlibat cerita-cerita tentang aku yang berusaha mencukupkan separuh diriku untuk melengkapi pias senduku. Kesana-kemari, kau tak pernah luput mencerca titik-titik kurang pada lingkaran kebahagiaanku. Namun, kasih. Percayakah kau tentang nihil yang kau dapatkan bila kau mencari diriku pada