Pandemi COVID-19 yang menyebalkan, sebenernya gak nyebelin-nyebelin amat. Aku bahkan jadi bisa kenal sama diriku sendiri yang hidupnya sedikit lurus dengan lika-liku yang di pendam. Ingat tentang yang katanya libur 2 pekan? Ternyata sampai aku semester dua di jurusan yang akhirnya aku kagumi sendiri pun belum ada kejelasan kapan sebuah pertemuan terjadi. Sebenarnya, musibah dari kehidupan gak bisa dipisahin. Setiap orang merasakan dan itu semua ada porsi adil dan tidaknya. Selain porsi yang Tuhan beri sesuai kesanggupan, ada hal lain buat manusia ngerti tentang kondisi Bumi yang semakin uhuk-uhuk. Hikmah dan bersyukur.
Kata orang, "Nduk, semua pasti ada hikmahnya.". Awalnya aku mikir, hikmahnya apa? Ah, sekarang aku baru ngerasain sebuah hikmah pada setiap kejadian. Ya. Seperti dipandemi yang super menyiksa ini. Awal karantina, kita semua disuguhkan oleh perasaan menyenangkan karena akhirnya bisa 'rehat' dari aktivitas dunia yang rasanya sedikit menyebalkan. Kita berhenti sejenak bertemu orang-orang yang kita sayang dan yang paling kita hindari untuk bertemu. Hari-hari berikutnya kita mulai penat kehabisan akal untuk mengusir rasa bosan dan mulut yang penuh dahaga atas kegiatan di luar rumah mulai menggerutu. Semua film sudah dihabiskan, semua sosial media penuh dengan keluh kesah manusia bumi yang mulai merindukan kerumunan.
Pada akhirnya, semua perbincangan mengenai kenapa semua ini terjadi akan berganti dengan timbulnya perasaan khawatir. Bahkan belakangan ini, setiap orang tak pernah lupa meninggalkan kalimat "Jaga kesehatan dan selalu waspada" pada setiap perbincangan.
Komentar
Posting Komentar