Langsung ke konten utama

Mengenal Diri Sendiri Selama Pandemi

Semakin bertambahnya umur, manusia akan selalu dihadapkan dengan pilihan mengenai pola pikirnya. Entah di usia berapa, mereka akan merasakan sesuatu berupa pendewasaan. Dalam kehidupan yang singkat, manusia akan terus memperbarui pemikirannya. Memperbarui menjadi pemikiran yang lebih hidup dan berpengaruh terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang ada dalam hidupnya. Mereka yang awalnya peduli, tiba-tiba menjadi lebih bodoamat. Mereka yang bodoamat pun, mungkin akan berubah menjadi yang lebih perasa terhadap sekitarnya. Semakin bertambahnya detik, aku bahkan jadi lebih paham tentang arti hidup. Setiap hari adalah pelajaran untuk setiap detiknya, setiap kegiatan baru manusia adalah sebuah pelarian untuk setiap nafasnya. Aku, kamu, mereka. Diri sendiri adalah tokoh utama penentu kehidupannya sendiri. Hidupku tetap menjadi milikku meskipun orang lain berkomentar apapun sesuai hasratnya. Aku ingin marah, sedih, bahagia, dan diam saja bahkan itu tetap menjadi milikku. 

Pandemi COVID-19 yang menyebalkan, sebenernya gak nyebelin-nyebelin amat. Aku bahkan jadi bisa kenal sama diriku sendiri yang hidupnya sedikit lurus dengan lika-liku yang di pendam. Ingat tentang yang katanya libur 2 pekan? Ternyata sampai aku semester dua di jurusan yang akhirnya aku kagumi sendiri pun belum ada kejelasan kapan sebuah pertemuan terjadi. Sebenarnya, musibah dari kehidupan gak bisa dipisahin. Setiap orang merasakan dan itu semua ada porsi adil dan tidaknya. Selain porsi yang Tuhan beri sesuai kesanggupan, ada hal lain buat manusia ngerti tentang kondisi Bumi yang semakin uhuk-uhuk. Hikmah dan bersyukur.

Kata orang, "Nduk, semua pasti ada hikmahnya.". Awalnya aku mikir, hikmahnya apa? Ah, sekarang aku baru ngerasain sebuah hikmah pada setiap kejadian. Ya. Seperti dipandemi yang super menyiksa ini. Awal karantina, kita semua disuguhkan oleh perasaan menyenangkan karena akhirnya bisa 'rehat' dari aktivitas dunia yang rasanya sedikit menyebalkan. Kita berhenti sejenak bertemu orang-orang yang kita sayang dan yang paling kita hindari untuk bertemu. Hari-hari berikutnya kita mulai penat kehabisan akal untuk mengusir rasa bosan dan mulut yang penuh dahaga atas kegiatan di luar rumah mulai menggerutu. Semua film sudah dihabiskan, semua sosial media penuh dengan keluh kesah manusia bumi yang mulai merindukan kerumunan.

Pada akhirnya, semua perbincangan mengenai kenapa semua ini terjadi akan berganti dengan timbulnya perasaan khawatir. Bahkan belakangan ini, setiap orang tak pernah lupa meninggalkan kalimat "Jaga kesehatan dan selalu waspada" pada setiap perbincangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla (Raisa Najma) Dalam sela pergantian malam dan fajar Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan Habis lembayung dari tubuhnya berpendar Terserap gairah lepas lemas perjamuan

Sempurna dan Porsinya

Ketika seseorang bertanya, arti sempurna dalam hidupmu sebenarnya apa? Berkali lipat aku bertahan dengan jawabanku bahwa porsi sempurna tentang kehidupan semua orang pasti ada takaran adil dan tidaknya. Emosi, haru, sengak, rindu, cinta, benci. Semua tentang langkah

Hal-hal tentang Bentala harus disudahi

Tepat pukul 19.40 malam, Nalani datang ke rumah. Dia telah menjejakkan kaki di teras rumahku tepat setelah Jingga, lelaki baik yang sempat Nalani kejar tanpa kenal putus asa dan sekarang telah jatuh pada pesona Nalani yang elok itu berpamitan pulang. Malam ini kami berdua memang memiliki rencana untuk saling cerita tentang kisah hidup yang bercorak abu dan hitam ini. "Waktu itu, aku kira Bentala beneran datang ke mimpiku, tapi ternyata aku aja yang kebanyakan mikirin dia," terangku tanpa basa basi ketika tubuhnya berhasil merebahkan diri di kasur. "Yang penting, kan, dia dateng." "Berhenti jadi penyemangatku buat dapetin Bentala, ya. Katamu, kan, ada beberapa hal yang gak bisa dipaksain. Mungkin dapetin Bentala itu salah satunya."