Langsung ke konten utama

Hai, semuanya!

Puisi Netral, Aku.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri, 

kenapa bisa aku mengatur kata-kata

sedang mengatur diriku sendiri

aku tidak bisa.


Lalu lucunya, 

aku suka bermain dengan Sansekerta

sedang untuk tahu artinya

aku masih mencarinya.


Ada yang lebih lucu lagi,

aku suka menipu diri

pada nafsu yang tidak bisa dipungkiri

sebenarnya aku miskin konsentrasi.


Betapa kuat sebuah tipu daya,

perasaan yang dikecoh tuannya

pemikiran yang dikendalikan jemarinya

dan pemahaman yang direka-reka.


Sebuah Pengakuan Pemilik Sajak, Raisa.


Hai, semuanya!

Selamat datang. Sebelumnya terima kasih karena sudah membaca puisi yang ricuh ini. Pertama, perkenalkan, aku, manusia yang sejak awal dilahirkannya sampai bisa menulis diblog ini, belum menemukan jawaban atas cinta kepada dirinya sendiri. Kedua, ketika tulisan ini ditulis, aku sedang ada pada umur 19 tahun. Lalu, tentang yang lainnya, tak usah diperjelas, aku tak yakin seseorang bahkan membaca paragraf pengenalan sejelek ini. Senang bertemua dengan kamu, yang membaca ini. Hai, //canggung.

Kedua, aku cuma pengen kasih tau, puisi  ricuh ini kutulis dengan gamblang secara mendadak. Mari aku tunjukkan beberapa sari intinya.

Puisi serandom ini tercipta saat aku merasa kehidupanku begitu membosankan. Inti maknanya gak begitu berarti buat dunia. Namanya juga, puisi perkenalanku. Puisi ini aku buat atas dasar diriku sendiri yang sejak awal mencintai dunia penulisan tapi selalu terombang-ambing dipermukaan. Sejak menemukan diriku sendiri menyukai hal seperti ini hingga semuanya berlanjut pada dunia perkuliahanku, aku belum pernah mencapai dasar. Pada akhirnya, terlahirlah puisi yang begitu naif ini. Semuanya tercipta begitu tiba-tiba. Semua di dalamnya berisikan mengenai terungkapnya kelakuan penuh tipu dayaku terhadap sebuah maha karya yang kerap kali dipuji oleh teman terdekatku.

Ya ampun! Aku bahkan tidak bisa memberi salam penutup yang baik. Atau bahkan sekeda basa-basi agar akhirnya tercipta epilog yang mengesankan. Sungguh. Setiap harinya aku seperti ini. Mengetikkan kata-kata tanpa mampu mengakhirinya. Itulah sebabnya, banyak bab yang tertulis sia-sia di dalam draf. Sudah ya, semuanya. Untukmu yang sudah mencapai kalimat terakhir ini, terima kasih atas kunjungannya. Salam dariku yang random ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla (Raisa Najma) Dalam sela pergantian malam dan fajar Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan Habis lembayung dari tubuhnya berpendar Terserap gairah lepas lemas perjamuan

Simfoni Efemeral Vol. 1

Simfoni Efemeral Empat Bagian Ketidakkekalan      Sekumpulan kupu-kupu dalam ruang renjanaku terhenyak. Mereka lantas berhamburan kesana kemari akibat kepalamu yang mendarat di pangkuanku. Aroma ocean breeze dari surai rambutmu tak kalah menyeruak indra penciumanku. Selanjutnya kau layangkan emosi romansa yang begitu membiusku. Kau berkata, "Telah termaktub sebuah cinta dariku untukmu saja. Pahamilah," sungguh tak cukupkah dengan itu kau begitu membuatku jatuh dalam cintamu?

Alih Wahana; Tutur Batin

Inspired by  Tutur Batin - Yura Yunita Hal-hal mengenai hilangmu dan kepergianmu. Di dalamnya kemudian terlibat cerita-cerita tentang aku yang berusaha mencukupkan separuh diriku untuk melengkapi pias senduku. Kesana-kemari, kau tak pernah luput mencerca titik-titik kurang pada lingkaran kebahagiaanku. Namun, kasih. Percayakah kau tentang nihil yang kau dapatkan bila kau mencari diriku pada