Langsung ke konten utama

Manusia Memilih Sendiri Kehidupannya

Semakin hari seseorang akan semakin sadar bahwa setiap hari berganti, setiap momen juga berganti. Tiap teka-teki mulai ditemukan oleh pencarinya. Paradoks hidup yang sulit dipecahkan, sampai kegiatan paling mutlak orang yang mulai menghindari kerumunan. Beberapa manusia

memilih menjadi sosok individual dengan privasinya yang mulai diperketat. Dunia luar yang mulai disaring dan orang-orang yang dianggap toxic mulai dibabat habis. Hal-hal sepele yang pasti akan dilakukan oleh setiap insan pada pendewasaannya.

Menyesal dan penyesalan sudah dianggap kuno. Persetan dengan angin lalu. Perubahan sudah mulai dianggap pasti. Manusia-manusia menyebalkan mulai diblokir dari akses penjamahannya. Hidup yang lurus. Bukan. Hidup yang berliku-liku tapi dikerjakan dengan lurus. Di saat aku mencoba untuk menulis ini, aku heran kenapa orang-orang suka menjalani hidup tanpa melakukan hal-hal yang menyenangkan. Di satu sisi, ada suatu bentuk yang tidak bisa diubah. Karakter. Sosok apatis tak bisa diubah menjadi sosok yang hangat kepada lawannya. Bahkan sosok yang selalu bilang, "Iya". Karakter paling menyebalkan seseorang yang terlanjur baik. Mengiyakan segala bentuk tanpa melihat kebahagiaan dalam dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla (Raisa Najma) Dalam sela pergantian malam dan fajar Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan Habis lembayung dari tubuhnya berpendar Terserap gairah lepas lemas perjamuan

Simfoni Efemeral Vol. 1

Simfoni Efemeral Empat Bagian Ketidakkekalan      Sekumpulan kupu-kupu dalam ruang renjanaku terhenyak. Mereka lantas berhamburan kesana kemari akibat kepalamu yang mendarat di pangkuanku. Aroma ocean breeze dari surai rambutmu tak kalah menyeruak indra penciumanku. Selanjutnya kau layangkan emosi romansa yang begitu membiusku. Kau berkata, "Telah termaktub sebuah cinta dariku untukmu saja. Pahamilah," sungguh tak cukupkah dengan itu kau begitu membuatku jatuh dalam cintamu?

Alih Wahana; Tutur Batin

Inspired by  Tutur Batin - Yura Yunita Hal-hal mengenai hilangmu dan kepergianmu. Di dalamnya kemudian terlibat cerita-cerita tentang aku yang berusaha mencukupkan separuh diriku untuk melengkapi pias senduku. Kesana-kemari, kau tak pernah luput mencerca titik-titik kurang pada lingkaran kebahagiaanku. Namun, kasih. Percayakah kau tentang nihil yang kau dapatkan bila kau mencari diriku pada