Simfoni Efemeral
Empat Bagian Ketidakkekalan
Sekumpulan kupu-kupu dalam ruang renjanaku terhenyak. Mereka lantas berhamburan kesana kemari akibat kepalamu yang mendarat di pangkuanku. Aroma ocean breeze dari surai rambutmu tak kalah menyeruak indra penciumanku. Selanjutnya kau layangkan emosi romansa yang begitu membiusku. Kau berkata, "Telah termaktub sebuah cinta dariku untukmu saja. Pahamilah," sungguh tak cukupkah dengan itu kau begitu membuatku jatuh dalam cintamu?
Malam penuh gemintang, kau kembali membuatku kelimpungan menerima segala penuhmu untuk gamangku. Aku mengira ini adalah yang baik-baik. Tak kira-kira sebuah kiraku meski dibungkusnya ia dengan secarik ragu. Tak lama ragu itu tertahan, ku tepiskan ia sebab kau menyuruhku untuk memberi seluruh percayaku kepadamu. Baik dan bodoh yang bersahabat pun menjadikanku inangnya. Mengiyakan segalanya, aku tetap jatuh dalam cintamu.Terbuainya aku dalam asmara itu, kalbu biru datang mempertebal ragu. Tanpa aba dengan berubahnya sifat lembutmu, ku cium bunga baru tumbuh dalam hatimu. Benar kan, tuan? Kau gerilya seluruh percayaku, lalu kau kurung segenggam percaya itu dengan ligar faktisiusmu. Sempat terbelenggu ragu, diam aku mengelabuhi jamanika kebohonganmu.
Hingga ku lihat dirimu duduk di taman persimpangan jalan. Sungguh terdapat di sana pemandangan terkutuk yang begitu mengotori hari nirmalaku. Ialah jawaban atas keraguanku untuk kau mengisi ruang kosong pada diriku. Ku cukupkan harsaku. Tak sudi aku untuk sekedar menebalkan bayangmu kerana pun ia bersifat efemeral, tak lega pula bila raharsaku berhenti hanya pada simfoni ke empat.
Komentar
Posting Komentar