Langsung ke konten utama

Simfoni Efemeral Vol. 1

Simfoni Efemeral

Empat Bagian Ketidakkekalan

    Sekumpulan kupu-kupu dalam ruang renjanaku terhenyak. Mereka lantas berhamburan kesana kemari akibat kepalamu yang mendarat di pangkuanku. Aroma ocean breeze dari surai rambutmu tak kalah menyeruak indra penciumanku. Selanjutnya kau layangkan emosi romansa yang begitu membiusku. Kau berkata, "Telah termaktub sebuah cinta dariku untukmu saja. Pahamilah," sungguh tak cukupkah dengan itu kau begitu membuatku jatuh dalam cintamu?

Malam penuh gemintang, kau kembali membuatku kelimpungan menerima segala penuhmu untuk gamangku. Aku mengira ini adalah yang baik-baik. Tak kira-kira sebuah kiraku meski dibungkusnya ia dengan secarik ragu. Tak lama ragu itu tertahan, ku tepiskan ia sebab kau menyuruhku untuk memberi seluruh percayaku kepadamu. Baik dan bodoh yang bersahabat pun menjadikanku inangnya. Mengiyakan segalanya, aku tetap jatuh dalam cintamu.

    Terbuainya aku dalam asmara itu, kalbu biru datang mempertebal ragu. Tanpa aba dengan berubahnya sifat lembutmu, ku cium bunga baru tumbuh dalam hatimu. Benar kan, tuan? Kau gerilya seluruh percayaku, lalu kau kurung segenggam percaya itu dengan ligar faktisiusmu. Sempat terbelenggu ragu, diam aku mengelabuhi jamanika kebohonganmu.

    Hingga ku lihat dirimu duduk di taman persimpangan jalan. Sungguh terdapat di sana pemandangan terkutuk yang begitu mengotori hari nirmalaku. Ialah jawaban atas keraguanku untuk kau mengisi ruang kosong pada diriku. Ku cukupkan harsaku. Tak sudi aku untuk sekedar menebalkan bayangmu kerana pun ia bersifat efemeral, tak lega pula bila raharsaku berhenti hanya pada simfoni ke empat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla (Raisa Najma) Dalam sela pergantian malam dan fajar Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan Habis lembayung dari tubuhnya berpendar Terserap gairah lepas lemas perjamuan

Sempurna dan Porsinya

Ketika seseorang bertanya, arti sempurna dalam hidupmu sebenarnya apa? Berkali lipat aku bertahan dengan jawabanku bahwa porsi sempurna tentang kehidupan semua orang pasti ada takaran adil dan tidaknya. Emosi, haru, sengak, rindu, cinta, benci. Semua tentang langkah

Hal-hal tentang Bentala harus disudahi

Tepat pukul 19.40 malam, Nalani datang ke rumah. Dia telah menjejakkan kaki di teras rumahku tepat setelah Jingga, lelaki baik yang sempat Nalani kejar tanpa kenal putus asa dan sekarang telah jatuh pada pesona Nalani yang elok itu berpamitan pulang. Malam ini kami berdua memang memiliki rencana untuk saling cerita tentang kisah hidup yang bercorak abu dan hitam ini. "Waktu itu, aku kira Bentala beneran datang ke mimpiku, tapi ternyata aku aja yang kebanyakan mikirin dia," terangku tanpa basa basi ketika tubuhnya berhasil merebahkan diri di kasur. "Yang penting, kan, dia dateng." "Berhenti jadi penyemangatku buat dapetin Bentala, ya. Katamu, kan, ada beberapa hal yang gak bisa dipaksain. Mungkin dapetin Bentala itu salah satunya."