Langsung ke konten utama

Karya Puisi Amatir : Cayarini Banyuwangi

Sebuah puisi hasil karya Saya guna melengkapi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Sastra. Tulisan adalah karya abadi, jadi sayang kalo gak disimpan dengan apik. Akhirnya diputuskannya Saya abadikan disini saja. 

Inti cerita puisi ini adalah tentang sakitnya Sidapeksa atas kesalahpahamannya terhadap wanita yang Ia cintai, Sritanjung. Untuk sebuah kisah yang lebih lengkap, bisa dibaca di legenda Sritanjung Asal-usul Banyuwangi, ya!

Bismillah, semoga menginspirasi.


Cayarini Banyuwangi

oleh Raisya Ad Dina Najma Soraya


Situasi selasar kerajaan penuh rengkuh

Sidapeksa merangkup kasihnya penuh angkuh

Sritanjung anak bidadari

Kasih Sidapeksa nan gagah berani


Tatap benci mata Sulakrama

Diam mendamba kekasih patihnya

Sulakrama raja picik penuh licik

Kebak hatinya dengan buih gemericik

Mengutus patihnya nan setia

Demi bahagia jiwanya yang murka


Berderaplah langkah patih penuh argani

Pergilah patih ke seberang negeri

Ia jalankan titah yang bukan titah

Sedang di kerajaan, raja geram genggam amarah


Cintanya ditolak!

Sritanjung menolak!

Jiwanya yang murka memberontak

Akal busuk di kepalanya jadi meledak


Datang lah Sidapeksa dari pengorbanan

Pulang lah Ia temui kesayangan

Hingga langkah berhenti di titik kesabaran

Didengarnya Sritanjung hilang kesetiaan


Mendidih sudah jiwa Sidapeksa

Meraup sekian segala bentuk murka

Sritanjung pasrah penuh sayu

Suaminya percaya tanpa bertanya satu-satu


Dihunusnya keris menembus dada

"Aku tidak menggodanya"

Darah Sritanjung mengalir seketika

"Jika wangi aku suci, jika busuk aku berdosa"


Terhuyung Sritanjung menuju kali

Keruh berangsur hilir bak kaca

Terhujam perih hati Sidapeksa

Meratap lirih khianati diri sendiri


Kau suci!

Sritanjung nyatanya suci!

Bau air sungai ini, semerbak wangi

Sritanjung... "Banyu.. wangi.. Banyu.. wangi.."


Banyuwangi, 27 Desember 2020

(Diadaptasi dari legenda Sritanjung Asal-usul Banyuwangi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla (Raisa Najma) Dalam sela pergantian malam dan fajar Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan Habis lembayung dari tubuhnya berpendar Terserap gairah lepas lemas perjamuan

Simfoni Efemeral Vol. 1

Simfoni Efemeral Empat Bagian Ketidakkekalan      Sekumpulan kupu-kupu dalam ruang renjanaku terhenyak. Mereka lantas berhamburan kesana kemari akibat kepalamu yang mendarat di pangkuanku. Aroma ocean breeze dari surai rambutmu tak kalah menyeruak indra penciumanku. Selanjutnya kau layangkan emosi romansa yang begitu membiusku. Kau berkata, "Telah termaktub sebuah cinta dariku untukmu saja. Pahamilah," sungguh tak cukupkah dengan itu kau begitu membuatku jatuh dalam cintamu?

Alih Wahana; Tutur Batin

Inspired by  Tutur Batin - Yura Yunita Hal-hal mengenai hilangmu dan kepergianmu. Di dalamnya kemudian terlibat cerita-cerita tentang aku yang berusaha mencukupkan separuh diriku untuk melengkapi pias senduku. Kesana-kemari, kau tak pernah luput mencerca titik-titik kurang pada lingkaran kebahagiaanku. Namun, kasih. Percayakah kau tentang nihil yang kau dapatkan bila kau mencari diriku pada