Langsung ke konten utama

Saya diutus ke Bumi

Saya telah berkelana, Bunda. Menjelajah beberapa lautan manusia yang Saya temui. Saya telah berhasil melebur bersama dengan karakter manusia yang saya arungi. Saya pula berhasil melindungi segenap atensi Saya terhadap hal-hal yang sudah Bunda bisikkan kepada Saya waktu itu; bahwa tidak semua hal bisa dipaksakan, bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kita ubah, bahwa kita lah yang harus melebur bersamaan dengan kristal-kristal padat itu.

Bunda, kini pantaskah Nalani disebut sebagai manusia yang dewasa?

Saat itu Bunda berpesan, bahwa kepala manusia begitu amat keras. Mereka berpikir sesuai dengan apa yang ingin mereka pikir. Separuh dari mereka memaksakan apa yang mereka pikir, entah itu jahat atau baik. Separuh lainnya memilih berdiam dan berkelut dengan pikirannya, kepalanya penuh dengan resiko.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla (Raisa Najma) Dalam sela pergantian malam dan fajar Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan Habis lembayung dari tubuhnya berpendar Terserap gairah lepas lemas perjamuan

Simfoni Efemeral Vol. 1

Simfoni Efemeral Empat Bagian Ketidakkekalan      Sekumpulan kupu-kupu dalam ruang renjanaku terhenyak. Mereka lantas berhamburan kesana kemari akibat kepalamu yang mendarat di pangkuanku. Aroma ocean breeze dari surai rambutmu tak kalah menyeruak indra penciumanku. Selanjutnya kau layangkan emosi romansa yang begitu membiusku. Kau berkata, "Telah termaktub sebuah cinta dariku untukmu saja. Pahamilah," sungguh tak cukupkah dengan itu kau begitu membuatku jatuh dalam cintamu?

Alih Wahana; Tutur Batin

Inspired by  Tutur Batin - Yura Yunita Hal-hal mengenai hilangmu dan kepergianmu. Di dalamnya kemudian terlibat cerita-cerita tentang aku yang berusaha mencukupkan separuh diriku untuk melengkapi pias senduku. Kesana-kemari, kau tak pernah luput mencerca titik-titik kurang pada lingkaran kebahagiaanku. Namun, kasih. Percayakah kau tentang nihil yang kau dapatkan bila kau mencari diriku pada