Langsung ke konten utama

Cerita-cerita oleh Maharani yang disembunyikan

"Suratnya, kan, sudah aku terima. Aku di sini sekarang"

"Ya. Tapi kau telat. Tidak membaca suratnya dengan benar, ya?!"

"Maharani, zaman sudah maju seperti ini tapi setiap saat kau selalu mengirimkan surat. Untung saja hari ini aku membuka kotak surat sebelum akhirnya terlambat lebih lama lagi. Kau tak ingin menggunakan ponselmu saja untuk menghubungiku, hm?

"Kuno."

"Bukannya kau yang kuno?"

"Sudahlah." 

"Kau ini, tidak menyukaiku lagi, ya!?"

"Bagaimana bisa aku tidak menyukai orang yang sudah menggangguku setiap hari?"

"Ya. Betul. Akhirnya kau sadar kalau-kalau perjuanganku buatmu itu besar, dasar manusia kutub."

Percakapan itu terjadi setelah aku melewati hal-hal yang panjang. Hal-hal yang panjang itu seperti, mengejar Bentala, mengejar Bentala, dan mengejar Bentala. Bentala memang tak pernah ingin dikejar. Bentala yang sering kalian baca di kutipanku itu, hidupnya kaku, jika kalian ingin tahu. Sebagian hidupnya hanya digunakan untuk makan, tidur, membaca buku, tiba-tiba mendaki gunung, kadang tiba-tiba diam. Tidak ada yang istimewa darinya selain mendapat cinta yang besar dari aku. Ya. Aku. Maharani.

Kalian segan tidak, berkenalan denganku? Aku yang lebih-lebih, kalau jadi bahan perbincangan pasti menjadi topik manusia-manusia paling aneh. Setiap hari aku senang bermimpi menjadi elf agar bisa meramu-ramu semua yang ada di hutan menjadi ramuan. Atau tidak menjadi salah satu peri di negeri peri. Atau yang paling menguji nyali menjadi peri dryads yang menghuni pohon-pohon. Tapi itu kan hanya seutas khayalan manusia aneh. Yang paling nyata bisa kalian kenali dari Maharani adalah, manusia ini tidak pernah menyerah mengganggu Bentala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla (Raisa Najma) Dalam sela pergantian malam dan fajar Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan Habis lembayung dari tubuhnya berpendar Terserap gairah lepas lemas perjamuan

Simfoni Efemeral Vol. 1

Simfoni Efemeral Empat Bagian Ketidakkekalan      Sekumpulan kupu-kupu dalam ruang renjanaku terhenyak. Mereka lantas berhamburan kesana kemari akibat kepalamu yang mendarat di pangkuanku. Aroma ocean breeze dari surai rambutmu tak kalah menyeruak indra penciumanku. Selanjutnya kau layangkan emosi romansa yang begitu membiusku. Kau berkata, "Telah termaktub sebuah cinta dariku untukmu saja. Pahamilah," sungguh tak cukupkah dengan itu kau begitu membuatku jatuh dalam cintamu?

Alih Wahana; Tutur Batin

Inspired by  Tutur Batin - Yura Yunita Hal-hal mengenai hilangmu dan kepergianmu. Di dalamnya kemudian terlibat cerita-cerita tentang aku yang berusaha mencukupkan separuh diriku untuk melengkapi pias senduku. Kesana-kemari, kau tak pernah luput mencerca titik-titik kurang pada lingkaran kebahagiaanku. Namun, kasih. Percayakah kau tentang nihil yang kau dapatkan bila kau mencari diriku pada