"Suratnya, kan, sudah aku terima. Aku di sini sekarang"
"Ya. Tapi kau telat. Tidak membaca suratnya dengan benar, ya?!"
"Maharani, zaman sudah maju seperti ini tapi setiap saat kau selalu mengirimkan surat. Untung saja hari ini aku membuka kotak surat sebelum akhirnya terlambat lebih lama lagi. Kau tak ingin menggunakan ponselmu saja untuk menghubungiku, hm?
"Kuno."
"Bukannya kau yang kuno?"
"Sudahlah."
"Kau ini, tidak menyukaiku lagi, ya!?"
"Bagaimana bisa aku tidak menyukai orang yang sudah menggangguku setiap hari?"
"Ya. Betul. Akhirnya kau sadar kalau-kalau perjuanganku buatmu itu besar, dasar manusia kutub."
Percakapan itu terjadi setelah aku melewati hal-hal yang panjang. Hal-hal yang panjang itu seperti, mengejar Bentala, mengejar Bentala, dan mengejar Bentala. Bentala memang tak pernah ingin dikejar. Bentala yang sering kalian baca di kutipanku itu, hidupnya kaku, jika kalian ingin tahu. Sebagian hidupnya hanya digunakan untuk makan, tidur, membaca buku, tiba-tiba mendaki gunung, kadang tiba-tiba diam. Tidak ada yang istimewa darinya selain mendapat cinta yang besar dari aku. Ya. Aku. Maharani.
Kalian segan tidak, berkenalan denganku? Aku yang lebih-lebih, kalau jadi bahan perbincangan pasti menjadi topik manusia-manusia paling aneh. Setiap hari aku senang bermimpi menjadi elf agar bisa meramu-ramu semua yang ada di hutan menjadi ramuan. Atau tidak menjadi salah satu peri di negeri peri. Atau yang paling menguji nyali menjadi peri dryads yang menghuni pohon-pohon. Tapi itu kan hanya seutas khayalan manusia aneh. Yang paling nyata bisa kalian kenali dari Maharani adalah, manusia ini tidak pernah menyerah mengganggu Bentala.
Komentar
Posting Komentar