Langsung ke konten utama

Ditulis untuk diri-sendiri, di 14 Februari yang menuju 21 tahun



Sudah lama saya hidup di dunia sebagai manusia yang diberi nama "Raisya". Kata ibu dan ayah, saya telah hidup 21 tahun. Orang-orang pula hari ini menyebut angka 21 untuk umur saya. Ternyata, selama itu saya hidup. Ibu dan ayah telah bersama saya 21 tahun. Orang-orang baik terdekat saya telah bersama dengan saya, tidak lebih atau kurang dari setengah hidup mereka. Tidak ada hal yang bisa dikatakan selain terima kasih karena telah mengenal saya sebagai manusia----barangkali saya adalah manusia yang baik atau menyebalkan.

Dari sudut pandang; #1 Ayah.
Pukul 15.57, ditulis di buku harian ayah bahwa putri keduanya telah lahir. Detik di mana saya melihat semesta bernama bumi, ibu dan ayah bahagia. Ayah adalah orang yang paling bahagia, saat itu. Mungkin ayah berpikir, setelah anak pertamanya tidak diberi izin oleh Tuhan untuk mengarungi hidup, hadir saya sebagai manusia yang kuat. Saya berharap sendiri, orang yang ternyata naif ini bisa kuat seperti yang ayah pikirkan. Begitu pula harapan saya yang dengan bahagia menulis ini, semoga dari pertama kali saya bersuara hingga tahun ke-21 (sejak saya lahir), ibu dan ayah selalu bahagia; atas dirinya sendiri, atas saya yang telah berhasil mengarungi hidup selama ini. 

Dari sudut pandang; #2 Ibu.
Sedari lahir, saya diberi pengetahuan tersirat oleh ibu perihal cinta. Ibu 20 tahun lebih tua dibanding saya, ia bilang, cinta begitu banyak rupa. Ia pula bilang, cinta punya begitu banyak cara. Tapi saya tak pernah menjumpai ibu mendeskripsikan batasan soal cinta. Dulu saya hanya menerima cinta itu, terus--terus--masih terus seperti itu hingga menjumpai umur saya yang sekarang, beranjak lebih tua dari umur saya sebelumnya. Saya pada akhirnya memahami sendiri bahwa cinta hidup memang tanpa batasan, tak punya batas cukup, ia liar.

Ibu bilang hari yang baik ketika kakak lahir orang-orang merayakan hari cintanya masing-masing, pula ibu. Ibu merayakan hari cinta dengan cinta yang begitu penuh. Dari hari itu, ibu membesarkan cintanya dengan sangat baik hingga tahun ke 21.

Dari sudut pandang; #3 Diri Sendiri.
Kita sudah menemukan banyak hal tentang hari ini, sudah melalui banyak hal kemarin. Yang baik-baik, yang kurang asik, yang bagus dan tidak bagus. Kita bahagia, kita sakit. Kita menyempurnakan diri, di depan kaca untuk kepuasan diri sendiri, di hadapan orang banyak untuk dianggap layak. Kita menjadi orang-orang yang kita temui, menjadi manusia-manusia yang seperti kita bayangkan. Halnya seperti itu, saya melakukan perhelatan pikiran selama 21 tahun tepat hari ini. Di hari cinta yang kata orang penuh kepuasan, saya mencoba untuk terus berpikiran baik, tentang diri saya sendiri dan tentang orang lain. Untuk tahun-tahun berikutnya, untuk detik-detik berikutnya

Selamat mengulang hari cinta yang ke-21. Untuk saya, untuk semua orang yang sedang bahagia. Perayaan terbaik ketika saya berhasil memahami bahwa cinta yang telah diasuh itu tumbuh menjadi orang yang mencintai dirinya dengan amat sangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layla (Sebuah Puisi)

- Layla (Raisa Najma) Dalam sela pergantian malam dan fajar Di pelipisku terkurung nafsu bekas kecupan Tuan Habis lembayung dari tubuhnya berpendar Terserap gairah lepas lemas perjamuan

Simfoni Efemeral Vol. 1

Simfoni Efemeral Empat Bagian Ketidakkekalan      Sekumpulan kupu-kupu dalam ruang renjanaku terhenyak. Mereka lantas berhamburan kesana kemari akibat kepalamu yang mendarat di pangkuanku. Aroma ocean breeze dari surai rambutmu tak kalah menyeruak indra penciumanku. Selanjutnya kau layangkan emosi romansa yang begitu membiusku. Kau berkata, "Telah termaktub sebuah cinta dariku untukmu saja. Pahamilah," sungguh tak cukupkah dengan itu kau begitu membuatku jatuh dalam cintamu?

Alih Wahana; Tutur Batin

Inspired by  Tutur Batin - Yura Yunita Hal-hal mengenai hilangmu dan kepergianmu. Di dalamnya kemudian terlibat cerita-cerita tentang aku yang berusaha mencukupkan separuh diriku untuk melengkapi pias senduku. Kesana-kemari, kau tak pernah luput mencerca titik-titik kurang pada lingkaran kebahagiaanku. Namun, kasih. Percayakah kau tentang nihil yang kau dapatkan bila kau mencari diriku pada